Rabu, 25 Maret 2015

Ketika Hidup Memiliki Arti


[foto : oleh penulis]

Palembang,  25 Maret 2015

            Malam ini aku termenung sejenak sebelum memejamkan mata. Merenungi bahwa hari ini benar-benar hari yang panjang dan akan terus melekat sebagai kenangan yang membanggakan bagi seorang mahasiswa ber-almamaterkan universitas tercinta. Ternyata banyak yang dapat aku syukuri, nikmat dari-Nya yang tiada putus-putusnya benar-benar membuatku semakin mencintai-Nya.

            Dimulai dari pagi hari ketika ayah mengantarkanku menuju sebuah seminar oleh dewan perwakilan mahasiswa FISIP Unsri yang bertempat di Pasca Sarjana, Palembang. Merasakan semangat yang menggebu ketika ayah memberikan notif bbm bahwa ia sangat mengkhawatirkan anaknya, membuat aku merasa sangat bersyukur memilikinya yang masih terus dapat berada ditengah-tengah hidupku. Allah begitu sayang padaku hingga membiarkan kedua orang tuaku masih berumur panjang hingga sekarang dan menemaniku berjuang untuk hidup.
            Lalu ketika seminar dimulai, aku merasakan diriku yang tidak sendirian berada ditengah puluhan mahasiswa yang datang. Teman-temanku yang begitu menghargai diriku berada diantara mereka. Terkadang bercanda riang, saling mengingatkan untuk fokus, ataupun saling berkomentar. Ketika aku berbicara, mereka meresponnya. Ketika aku tertawa, mereka ikut tertawa bersamaku. Ketika aku diam memperhatikan, mereka ikut memperhatikan. Ketika aku berkomentar, mereka ikut berkomentar. Aku merasakan adanya timbal balik. Dan itu sangat menyenangkan.
            Seminar selesai, kukira itu adalah hari yang cukup melelahkan dengan terik panas matahari yang cukup menyengat. Langkahku tiba-tiba berhenti begitu melihat ribuan mahasiswa Unsri sedang melewati lintasan yang aku lewati untuk menjalankan aksi mereka, menuntut apa yang sudah menjadi hak mereka sebagai masyarakat kepada para wakil rakyat.
            Hatiku terenyuh sesaat, menyadarkan aku dengan almamater yang berada di genggamanku dan segera mengenakannya.
AKU BAGIAN DARI KALIAN!
            Mungkin seseorang mendengar teriakan hatiku, beberapa orang yang lalu lalang mengenalku dan meresponnya.
            “MASUKLAH KE BARISAN!” aku tersenyum dengan semangat menggebu. Mereka menganggap keberadaanku, tidakkah itu sangat menyentuh?
            Berada di barisan terdepan wanita membuatku makin semangat. Namun ternyata masih ada yang lebih bersemangat dariku sehingga aku terdorong beberapa langkah ke belakang. Aku merasa sendirian, tidak ada yang ku kenal. Tapi meskipun begitu, aku tetap berjalan dengan semangat karena aku adalah bagian dari mereka. Begitupun sebaliknya.
            Seseorang yang kukenal berjalan disebelahku, dua orang temanku yang sekelas denganku. Aku menyapa dan mereka tersenyum senang. Mereka mengajakku berjalan bersama, saling mengunci barisan dengan gandengan erat agar kami tidak berpisah. Tidakkah itu menyenangkan?
Mereka mengajakku berjuang bersama.
Sampai di gedung DPRD Sumsel, kami mulai menyelenggarakan aksi kami. Beberapa pembicara dan petinggi mahasiswa mulai berorasi, membakar semangat mahasiswa.
HIDUP MAHASISWA!!!
BERAPA SUARAMU MAHASISWA??? SATU!!!
DIMANA KAWANKU?? DISINI KAWANMU!!
Kami mulai menyanyikan lagu mahasiswa dengan kekompakan yang seolah telah mendarah daging. Teman-temanku bersamaku, aku berteriak bersama mereka. Aku menuntut hak bersama dengan mereka. Dan mereka selalu mengawasi agar kami tidak berpencar, agar kami selalu bersama. Bukankah itu menyenangkan?
Terik matahari tidak membuat kami lelah, kawan. Kami masih terus saja beraksi agar wakil-wakil rakyat itu mendengar apa yang seharusnya mereka dengar. Agar mereka turun bertatap muka dengan kami dan bersedia memenuhi hak-hak kami yang sudah sejak lama seharusnya dijalankan.
Adzan berkumandang, menggerakkan hati para muslim untuk mendirikan sholat dan beribadah. Kami tidak meninggalkan kewajiban kami kepada Tuhan kami. Setelah itu kami kembali menuntut hak-hak kami.
Hari semakin mendung, ditambah perut kosong dan juga semangat yang terus berkobar. Aku dan teman-temanku membuat pagar dengan lengan kami agar dapat menerobos masuk kedalam gedung DPRD. Di barisan terdepan wanita, tidakkah itu menyenangkan?
Sebenarnya itu menakutkan menurutku. Sesuatu yang biasanya hanya kulihat di televisi atau media-media, untuk pertama kalinya aku lakukan sendiri dalam hidupku. Namun berjuang bersama teman-temanku, tidak terasa menakutkan. Mereka siap membantu jika ada yang tumbang, aku benar-benar merasakan sebuah pertemanan disana.
AYO KELUAR! TIDAK KELUAR? BIAR KAMI YANG MASUK!!!
Kami terus menerus berjuang melewati kepadatan dan barisan polisi di depan kami. Ada yang bilang, “TAHAN!” ada yang sudah rusuh sampai keatas. Yang membuatku kalut adalah bagian belakang yang melempari sesuatu kearah polisi, entah itu es batu ataupun mungkin batu asli? Sial sekali aku bagian paling depan, berhadapan dengan polisi yang antara mendorong kami menjauh dan juga menahan serangan dari pasukan belakang.
Kupikir aku akan mati disana. Tadinya.
Hingga akhirnya polisi menyuruh seluruh wanita untuk naik keatas dan menyelamatkan mereka dari aksi radikal beberapa mahasiswa dibelakang. Kesialan yang kupikir akan membuatku terluka, justru menjadi sebuah keuntungan karena barisan kami duluan yang selamat sampai keatas. Aku bernafas lega, meskipun detak jantung itu terus memburu. Berkali aku harus menyadarkan diri bahwa ini benar-benar aksi yang nyata, bukan mimpi.
“APA-APAAN INI? YANG LAINNYA DIBAWAH TAPI KITA ENAK-ENAKAN DIATAS. AKU MAU TURUN!” teriak temanku yang sepertinya sangat terbakar semangatnya, namun aku menahannya. Menyadarkannya bahwa kita hanyalah perempuan, sedangkan yang dibawah itu laki-laki. Lebih baik kita mencari aman saja.
“MEMANGNYA WANITA ITU LEMAH?” sial sekali dia benar-benar terbakar emosinya saat itu. Untung saja beberapa panitia aksi meredakan emosi kami dan menyuruh kami untuk tetap tenang diatas, sementara polisi mulai meredakan suasana para mahasiswa dibawah. Emosi ditambah hujan deras yang mengguyur kami membuat kami seperti daging bakar yang diberi kuah. Campur aduk sekali rasanya.
Tak lama aksi baku hantam itu pun mulai reda seiring berhentinya rintik hujan. Kami barisan wanita mulai kembali kebawah dan ikut mengisi beberapa shaf kosong dibelakang mahasiswa lainnya. Disana aku bertemu banyak sekali teman sekelasku yang tak menyangka bahwa aku akan datang. Wajah mereka nampak sangat kaget namun senang karena dapat berjuang bersama. Bukankah itu sangat menyenangkan?
Aksi itu berakhir dengan kehadiran anggota dewan yang ‘akhirnya’ turun dari kursi empuknya menuju keluar gedung. Dengan beberapa penjelasan yang diberikan, mereka menandatangani surat yang kuyakini adalah perjanjian bahwa diterimanya aspirasi kami. Aku merasa usahaku tidaklah sia-sia, meskipun perjuangan ku hanya bergabung ditengah jalan.
Aku merasa hidup, bukan seperti robot yang disetting seperti dibangku SMA dulu. Aku merasakan kehadiran mereka, teman-teman disekelilingku, dan mereka juga merasakan kehadiranku disekeliling mereka. Mereka menghargai eksistensiku, mereka berjuang bersamaku.
Aku merasa sangat bersyukur karena mampu bersabar selama ini dan mampu memenuhi tekad dalam hatiku untuk mencari banyak teman seperti zaman SMP dulu. Aku merasa sisi independen ku, namun juga merasa sisi kekeluargaan diantara mereka.
Tidakkah Allah sangat mencintaiku? tidakkah Ia mampu melihat apa yang hamba-Nya butuhkan, bukan inginkan?
Mungkin disatu sisi aku menginginkan kehadiran seseorang yang hadir dalam hidupku untuk memberikan perhatiannya dan cintanya padaku. Namun Allah tidak memberikannya, kenapa? Belum waktunya aku membutuhkan seseorang itu dalam hidupku saat ini. Yang aku butuhkan yaitu eksistensi dan teman. Lihat betapa Allah begitu memberikan nikmat-Nya yang tiada henti-hentinya, aku makin mencintai-Nya.
Ketika aku sudah bersyukur dengan hariku ini, aku akan bersyukur untuk hari esok dan seterusnya. Aku akan terus bersyukur dan mengurangi mengeluh. Karena hidupku hanya sekali, akan begitu rugi jika hanya mengeluh saja tanpa bersyukur.
Aku begitu bangga karena melakukan sesuatu yang benar-benar penuh perjuangan untuk hidupku dan orang banyak. Aku merasa hidupku begitu penting, aku merasa benar-benar hidup secara nyata. Betapa Mahasuci Allah, Tuhan Pemberi Nikmat.

Alhamdulillahi rabbil‘alamiin

dokumentasi (oleh saya sendiri) :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar